Memilih Prototyping Software untuk Project Anda

ux-788002_1920

Tool untuk prototype menjadi sebuah hal penting untuk desainer, baik untuk desainer UI dan UX. Kita diharuskan untuk mendokumentasikan beberapa state dari satu layar, termasuk animasi, transisi dan microinteractions yang sulit untuk dilakukan menggunakan dokumentasi statis. Sebuah perusahaan yang peduli akan hal ini akan memulai menggunakan prototyping tool sebagai kebutuhan yang mereka butuhkan. Tetapi permasalahan lain adalah bagaimana memilih prototyping tool ini, apakah yang harus diperhatikan sebagai kriteria untuk memilih tool ini, dan kenapa tim kita harus benar untuk memilih prototype tool ini.

“Tool apa yang harus saya gunakan ?” pertanyaan ini menjadi hal umum yang sering ditanyakan oleh para designer, baik di dalam online forum, blog, ataupun media sosial. Desainer cenderung cepat berdebat untuk alat atau aplikasi tertentu. Yang benar adalah bahwa tidak ada solusi adalah salah satu ukuran cocok untuk semua. Semakin banyak, desainer perlu memiliki berbagai alat yang mereka miliki, untuk memahami pro dan kontra dari masing-masing, dan untuk dapat cepat memutuskan alur kerja yang paling sesuai untuk konteks tertentu.

Di bawah ini, kita akan membahas lima langkah untuk memutuskan alat prototyping yang tepat untuk proyek Anda: dari mendefinisikan tujuan, untuk memahami kebutuhan dan konteks, untuk mengevaluasi pilihan yang tersedia. Tujuannya adalah untuk membimbing desainer yang membuat keputusan itu untuk pertama kalinya atau yang berhadapan dengan sebuah proyek dengan kebutuhan yang unik dan kendala.

1. Apakah Kamu Membutuhkan Prototyping Tool ?

Bagaimana kita menunjukkan sebuah product yang seharusnya bekerja pada saat dia dirancang merupakan salah satu tujuan untuk menjelaskan kepada client tentang bagaimana product yang dia hasilkan benar-benar bagus dan dapat berjalan dengan baik. Tentu menimbulkan kesan awal dengan cara seperti ini sangatlah penting, desainer dapat membuat interaksi yang di dinamis dan paling nyata agar produknya bisa dilihat oleh user pada saat dirancang.

Namun dalam beberapa kasus tool prototype menggunakan kertas masih digunakan, ini dimaksudkan agar kita bisa lebih cepat berinteraksi dengan client saat menjelaskan produk yang diinginkan. Terkadang menggunakan prototyping tool berbasis software memerlukan waktu yang lumayan lama untuk membuatnya. Tetapi tool ni lebih terfokus pada pengujian konsep, daripada fungsionalitas dari produk tersebut.

Dalam kasus lain, ada juga yang dimulai dengan membangun produk dengan bahasa pemrograman terlebih dahulu tanpa melakukan prototyping dengan software (simulasi). Biasanya mereka menggunakan HTML, CSS, Javascript dengan faramework bootstrap agar cepat membuat sebuah demo produk tanpa membuat fungsionalitas dari sebuah produk, jadi masih dalam bentuk prototype tampilan.

Sebelum menghabiskan energi mencoba untuk memilih perangkat lunak yang tepat untuk pekerjaan itu, diskusikan dengan tim apakah prototipe berbasis interaktif adalah benar-benar solusi terbaik untuk memenuhi kebutuhan proyek tertentu.

2. Tentukan Tujuan

Mendefinisikan tujuan prototipe dapat membantu Anda memikirkan tingkat kegunaan dan fungsi yang dibutuhkan. Prototype sangat membantu agar konsep produk yang dirancang lebih hidup. Tool tersebut juga membantu penjualan produk kepada client atau stackholder, ide lebih tersampaikan dan mudah untuk dibayangkan.

Selain itu penjelasan konsep kepada team juga lebih mudah disampaikan. Setiap programer dan designer dapat memvisualisasikan produk tersebut. Proses pengembangan sebuah produk juga berjalan lebih cepat karena hal tersebut.

3. Pahami Kebutuhan

Setelah tujuan dri prototype ditentukan sekarang saatnya melihat lebuh dalam tentang isu yang terkait dengan perangkat lunak, perangkat keras, waktu dan sumberdaya. Seorang designer biasanya melakukan kesalahan dengan langsung merancang apa yang akan dibuat pada produknya menggunakan prototype toolnya tanpa berdiskusi dengan tim tentang kebutuhan-kabutuhan yang lebih speifik.

Bertemu dengan tim dan mendiskusikan beberapa faktor terkait isu diatas sangatlah penting, libatkan project manager, desainer, dan developer. Jangan melupakan juga faktor waktu, anggaran, keahlian, dan kompabilitas teknis saat melakukan perancangan dengan tim. Pada tahap ini prototype dapat diambil dalam beberapa bentuk misal menggunakan sketsa tangan dan wireframe misalnya agar proses penyampaian lebih cepat. Anda harus melakukan dengan lebih halus dan kaya dengan kreasi untuk benar-benar memahamiapakah dan bagaimana interaksi yang diberikan akan bekerja.

4. Evaluasi Tool

Tool yang anda gunakan juga perlu untuk dievaluasi, misalnya apakah produk yang sedang anda kerjakan termasuk web, mobile atau desktop. Tentu akan berbeda prototyping tool dalam menangani berbagai palform tersebut tergantung kebutuhan dimana kita akan menjalankan produk kita. Lalu bagaimana hasil prototype, apakah bisa membuat cepat dalam rancangan, lebih nyata, atau hanya sekedar kerangka.

Lalu anda juga perlu mengevaluasi apakan tool tersebut sudah embuat komunikasi anda dengan tim anda lebih baik. Produktivitas dalam sebuah perancangan produk sangatlah penting karena titik awal sebuah produk dibangun pada proses prototype.

5. Mari Lakukan Ini

Saran terakhir adalah jangan terbuai dengan semua alat prototype baru di luar sana sehingga terlalu banyak pilihan. Jadilah bijaksana tentang yang anda pilih, dan cerdas tentang bagaimana anda menginvestasikan waktu dalam belajar dan menggunakannya. Produk dinilai dari seberapa dekat anda memenuhi kebutuhan pengguna, bukan menghabiskan waktu untuk menggunakan prototyping tool sehingga produk hanyalah sebuah rencana bukan realisasi nyata.

Aulia Arif Wardana

Post A Reply

Translate »